Jakarta, ID - Para generasi muda di Tanah Air diajak untuk berpartisipasi dalam membangun demokrasi dinamis (dynamic democracy) di era digital sesuai perkembangan teknkologi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengaatakan, generasi muda daiajaknya membangun dynamic democracy agar mampu menjawab tantangan baru pada era teknologi digital.
Setelah 28 tahun Reformasi sejak 1998, tantangan Indonesia tidak lagi sebatas menjaga kebebasan, tetapi memastikan demokrasi mampu menghadirkan kesejahteraan, merespons disinformasi, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Hari-hari ini, teknologi memberikan banyak hal kepada kita yang memperluas demokrasi, tapi juga dia bisa memperlebar konflik,” ujar Nezar, dalam acara Diskusi Pemuda bertema ‘28 Tahun Reformasi: Perjuangan Masa Lalu, Kini, dan Esok’ di Jakarta Selatan, dikutip InfoDigital, Senin (13/7/2026).
BACA JUGA:Investasi Sejak Muda Akselerasi Kebebasan Finansial
Perkembangan teknologi disebutnya telah melahirkan banyak platform media sosial yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan berbagai macam aktivitas.
Meski memiliki berbagai dampak positif, media sosial juga menghadirkan berbagai macam risiko yang berpotensi menimbulkan konflik akibat cara kerja algoritmanya.
“Kita melihat media sosial punya potensi untuk membuat polarisasi, disinformasi, mempertajam politik identitas, dan menjadi echo chamber di mana sebetulnya apa yang kita teriakkan itu bergema kembali memantul ke kita sendiri karena algoritma memang membuatnya demikian,” lanjutnya.
Risiko-risiko tersebut diperparah dengan terjerumusnya dunia ke era post-truth yang membuat kebenaran informasi menjadi kurang relevan dibandingkan sentimen para pengguna platform media sosial.
“Informasi yang muncul di media sosial itu tidak penting benar atau salah, tapi Anda suka atau tidak suka, Anda punya sentimen atau tidak. Jadi, yang digerakkan adalah sentimen bukan fakta,” imbuhnya.
BACA JUGA:Telkom Lahirkan Ribuan Inovator Muda di 22 Provinsi
Meskipun menghadapi berbagai macam tantangan, Wamen Nezar tetap optimistis bahwa demokrasi di Indonesia dapat terus berkembang mengingat mayoritas demografi saat ini berada di dalam generasi yang telah mengalami kebebasan demokrasi.
“Usia antara 15 sampai dengan 55 tahun, lapisan muda dan produktif masyarakat Indonesia, mencapai hampir 60%, dan kalau dilihat, ini adalah usia generasi yang menikmati kebebasan demokrasi, yang menginternalisasi soal kebebasan ini, dan menjadi referensi dalam setiap tindakan-tindakan politiknya,” ujar Wamen Nezar.
Wamenkomdigi pun mengajak generasi muda untuk menjadikan perjalanan demokrasi Indonesia selama 28 tahun sebagai pijakan menghadapi tantangan masa depan.
“Indonesia perlu membuat perspektif baru tentang demokrasi yang bersifat lebih dinamis,” pungkas Nezar. (bdm)