Dampak dari perubahan komisi tersebut baru akan akan terlihat pada laporan keuangan kuartal III-2026. Namun, setelah satu bulan berjalan penerapan kebijakan tersebut, kondisi bisnis GoRide masih tetap stabil.
“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun,” katanya.
Namun, Hans tetap memperkirakan kontribusi dari bisnis on-demand services tersebut akan berkurang. Sementara itu, bisnis fintech akan memberikan kontribusi lebih besar.
Seiring dengan berkembangnya ekosistem, GoTo juga terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan, termasuk mendukung mitra driver Gojek, di antaranya melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga umrah gratis.
“Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” pungkas Hans. (bdm)