Jakarta, ID - Menurut studi terbaru Kaspersky, B2C Pulse, telah terjadi 15.163 insiden serangan siber yang mengincar perangkat seluler (mobile), terutama ponsel, di Indonesia sepanjang kuartal I-2026.
Hal itu berjalan seiring dengan penggunaan teknologi digital dan kesadaran terhadap kejahatan siber di kawasan Asia-Pasifik merupakan yang tertinggi dibandingkan wilayah lain di dunia.
Menurut data B2C Pulse Kaspersky, India dan Indonesia mencatat jumlah serangan siber pada perangkat seluler tertinggi di kawasan Asia-Pasifik masing-masing dengan 18.187 dan 15.163 insiden.
Sementara itu, peningkatan tajam serangan seluler dalam perbandingan tahun ke tahun (year on year/YoY) kuartal I-2026 dan kuartal I-2025, Taiwan naik 373%, Sri Lanka 132%, Thailand 127%, Bangladesh 108%, China 69%, dan Filipina 28%.
“Lonjakan serangan seluler Asia-Pasifik mencerminkan betapa cepatnya perubahan kebiasaan digital di kawasan ini,” ujar Head of Consumer Channel untuk wilayah Asia Pasifik di Kaspersky Choon Hong Chee, dikutip InfoDigital, Jumat (14/8/2026).
BACA JUGA:BSSN dan Huawei Perbarui MoU Keamanan Siber
Menurut dia, India dan Indonesia mencatat volume serangan siber tertinggi di Asia-Pasifik.
Namun, peningkatan tajam YoY yang terlihat di Taiwan, Sri Lanka, Thailand, dan Bangladesh juga menunjukkan bahwa ancaman seluler berkembang pesat melampaui negara-negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Berbeda dengan komputer (PC), perangkat seluler, terutama ponsel, seringkali tidak dilindungi dengan tingkat keamanan yang baik. Padahal, perangkat ini makin menjadi pintu gerbang bagi kehidupan finansial, sosial, dan profesional.
“Seiring penjahat siber mengikuti pergeseran ini, tantangannya adalah memastikan bahwa keamanan seluler tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan tingkat adopsinya,” tambah Choon.
Kesadaran Siber
Data Kaspersky menyebut, masyarakat di Asia-Pasifik sangat aktif di dalam jaringan (daring) digital berbasis internet. Namun, kawasan ini juga mulai menyadari berbagai bahaya (serangan siber) di dunia digital.
Konsumen di Asia-Pasifik melampaui konsumen global dalam hal belanja daring (80% berbanding 71%), keuangan digital (72% berbanding 70%), hiburan digital (70% berbanding 62%), dan komunikasi digital (68% berbanding 61%).
Seiring dengan itu, konsumen di kawasan Asia-Pasifik juga lebih menaruh perhatian pada risiko penggunaan teknologi digital untuk kejahatan siber dibandingkan tingkat global (35% berbanding 32%).
Tingkat kesadaran siber tertinggi tercatat di Thailand 39%, diikuti oleh negara Malaysia 38%, Indonesia 35%, China 34%, India 32%, dan negara Vietnam 31%.