dr Rony Hadirkan Inovasi AI untuk Deteksi Dini Pasien Gagal Jantung
Dr dr Rony M Santoso, SpJP (kanan). (Dok Primaya Hospital Tangerang)--
BACA JUGA:Solusi AI Lintasarta Jawab Tantangan Industri
Penelitian lanjutan selama enam bulan juga menunjukkan bahwa pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.
Ke depan, NAVI-HF disebutnya memiliki potensi untuk mendukung home-based monitoring dan telemedicine.
"Kami berharap inovasi ini dapat mendukung deteksi yang lebih dini, membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis, sekaligus mengurangi risiko rawat ulang akibat gagal jantung," tambahnya.
Gagal Jnatung di Indonesia
Gagal jantung masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Asian-HF Registry, Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus gagal jantung terbanyak di Asia setelah Tiongkok.
Angka kematian dalam satu tahun mencapai 34,1%. Sementara itu, sekitar 30% pasien harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit akibat memburuknya kondisi setelah dipulangkan.
Salah satu penyebab tingginya angka rawat ulang karena masih adanya penumpukan cairan di paru (residual pulmonary congestion) yang belum terdeteksi saat pasien dipulangkan.
Kondisi itu tidak selalu dapat dikenali melalui pemeriksaan dengan stetoskop biasa, sementara pemeriksaan menggunakan Lung Ultrasound maupun pemeriksaan darah seperti NT-proBNP memerlukan peralatan khusus, biaya yang lebih tinggi, serta tenaga kesehatan yang terlatih. (bdm)