Jakarta, ID – Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat penggunaan ChatGPT yang tinggi secara global. Berdasarkan data internal OpenAI, Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan jumlah pengguna aktif mingguan ChatGPT terbanyak di dunia.
Tingginya penggunaan tersebut menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dalam aktivitas masyarakat Indonesia, baik untuk kebutuhan pekerjaan maupun menyelesaikan berbagai tugas sehari-hari.
Data OpenAI juga mencatat, lebih dari 50% masyarakat Indonesia menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan tugas harian maupun mingguan. Sementara itu, sekitar satu dari lima orang di Indonesia telah menggunakan AI dalam aktivitas sehari-hari.
Melihat tingginya minat masyarakat terhadap AI, Head of Policy OpenAI Southeast Asia Sandy Kunvatanagarn menilai kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu faktor penting untuk mengembangkan ekosistem AI Indonesia.
“Kuncinya adalah membangun kemitraan yang kuat antara penyedia teknologi global, pemerintah, industri, dan masyarakat sipil,” ujar Sandy di Jakarta, dikutip InfoDigital, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, peningkatan penggunaan AI perlu diarahkan lebih jauh.
Pemanfaatan teknologi tersebut di Indonesia diharapkan tidak berhenti pada kebutuhan dasar, tetapi berkembang menuju penggunaan yang lebih canggih dengan tetap mempertimbangkan konteks dan kearifan lokal.
BACA JUGA:80,6% WNI Sudah Online, Pemerintah Dorong Domain .id Makin Berperan
Pemanfaatan AI untuk Penalaran dan Codex
Tak hanya dari sisi jumlah pengguna, Indonesia juga menunjukkan tingkat pemanfaatan fitur AI yang lebih canggih.
OpenAI mencatat, Indonesia berada di 5% teratas secara global dalam penggunaan reasoning tokens atau token penalaran.
Fitur tersebut digunakan untuk membantu ChatGPT menangani persoalan yang membutuhkan analisis lebih mendalam dan penyelesaian masalah dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi dibandingkan penggunaan AI generatif untuk kebutuhan dasar.
Perubahan pola penggunaan AI juga terlihat melalui pemanfaatan Codex, agen AI yang pada awalnya dikembangkan untuk membantu pekerjaan terkait pemrograman atau coding.
Lebih dari 50% pengguna Codex di Indonesia berasal dari kalangan profesional nonteknis, termasuk bidang hukum, riset, dan pemasaran.
Tren tersebut turut menempatkan Indonesia dalam lima besar negara dengan pengguna Codex terbanyak secara global.