Jakarta, ID – Kaspersky, perusahaan kosultan keamanan siber asal Rusia, menyebut bahwa aplikasi pada perangkat seluler, termasuk ponsel, makin butuh perlindungan lebih karena menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Simak lima alasan utamanya.
Saat ini, di berbagai negara, termasuk Indonesia, penggunaan aplikasi pada aplikasi mobile, antara lain ponsel dan tablet yang berplatform Android maupun iOS serta lainnya, sudah menjadi bagian penopang aktivitas sehari-hari.
Pengguna perangkat mobile pun sangat lazim dan sudah bergantung menggunakan aplikasi seluler, mulai dari perbankan, e-commerce, dan transportasi, hingga layanan kesehatan dan pemerintahan.
Seiring dengan itu, aplikasi seluler pun untuk mengelola transaksi keuangan, menyimpan informasi pribadi, dan mengakses layanan penting, sehingga para penjahat siber mulai mengalihkan fokus untuk menyusupi ke perangkat dan aplikasi seluler.
"Aplikasi seluler telah menjadi titik interaksi digital utama antara bisnis dan konsumen di seluruh Asia Pasifik, khususnya di pasar dengan tingkat konektivitas tinggi seperti Indonesia,” ujar Head of Consumer Channel untuk Asia Pasifik di Kaspersky Choon Hong Chee, dikutip InfoDigital, Kamis (1/10/2026).
BACA JUGA:Trojan Perbankan Seluler Meledak, Kaspersky Temukan 162 Ribu Baru pada Kuartal I-2026
Karena itu, Kaspersky pun mengidentifikasi setidaknya lima alasan dan risiko keamanan utama yang harus ditangani secara proaktif oleh pengembang aplikasi seluler.
1. Ada Perangkat Lunak Berbahaya
Menurut Kaspersky, adanya dan maraknya perangkat lunak berbahaya yang mampu mencuri kredensial, mencegat kata sandi sekali pakai (OTP), memantau layar, atau menampilkan halaman login palsu sebagai lapisan (overlay).
Penyerang siber saat ini menjadi makin kreatif dalam beberapa tahun terakhir, dan spyware modern kini dilengkapi dengan berbagai fitur canggih.
Tergantung pada jenisnya, malware dapat mencegat notifikasi aplikasi, pesan teks, kode PIN, dan pola kunci layar; mencuri kode 2FA untuk Google Authenticator dan sejenisnya; serta membagikan aktivitas di layar korban secara real-time.
2. Jaringan Wi-Fi Publik Tidak Aman
Selanjutnya, jaringan Wi-Fi publik yang tidak aman telah menjadi tempat penyerang siber dapat mencegat komunikasi antara aplikasi seluler dan server backend.
Apalagi, setiap tempat umum dan moda transportasi kini menyediakan jaringan Wi-Fi untuk siapa saja.
Arang lain yang berada di jaringan Wi-Fi publik pundapat mencoba mencegat pertukaran data antara aplikasi Anda dan server, sehingga mendapatkan akses ke akun pelanggan.