Investasi Sejak Muda Akselerasi Kebebasan Finansial

Investasi Sejak Muda Akselerasi Kebebasan Finansial

Literasi Keuangan Mahasiswa Himapen bertajuk Menangkap Peluang investasi Saham, Kripto, dan Komoditas. (Dok Himapen) --

Jakarta, ID - Berinvestasi di potofolio saham, kripto, hingga komoditas idealnya dilakukan sejak muda. Langkah ini akan mempercepat pencapaian kebebasan finansial hingga melawan ancaman inflasi yang menggerus pendapatan.

Sejalan dengan itu, literasi keuangan di kalangan generasi muda, termasuk mahasiswa harus digencarkan. Sebab, faktanya, literasi keuangan generasi penerus ini masih rendah. Akibatnya, banyak generasi muda yang bukannya berinvestasi, tapi malah terjerat judi online (judol).

Sejak dini, generasi muda perlu belajar investasi untuk menggandakan aset/pendapatan. Dengan begitu, mereka juga bisa terhindar dari jeratan judol dan mulai mengenal, bahkan mencoba investasi di berbagai instrumen legal .

Sebagai ilustrasi pentingnya investasi dari usia muda, investor pun bisa mendapatkan investasi yang menggiurkan. Sebagai contoh, harga penawaran perdana (initioal public offering/IPO) saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tahun 2.000 masih Rp1.400 per lembar saham, atau 10 lot saham Rp1,4 juta.

Namun, berkaca pada harga sekarang dengan memperhitungkan pecah saham(stock split) tahun 2001 dan 2021, keuntungan dari kenaikan harga (capital gain) saham BBCA sangat besar mencapai 3.989% dari harga IPO.

Contoh lainnya, capital cain saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sejak IPO tahun 2023 hingga sekarang mencapai 296% alias 98% per tahun.

Investasi aset uang digital (kripto) juga menggiurkan. Sebagai ilustrasi, harga kripto Bitcoin pada 2010 masih hanya Rp73 per koin, dan sekarang, sudah menyentuh Rp1,1 miliar per koin.

BACA JUGA:Bukalapak Pertahankan Investasi di Allo Bank dan Allo Fresh

Return investasi komoditas dan turunan porofolionya, seperti XAUUSD (Gold Futures), juga tak kalah besar asalkan paham risikonya. Karena, sudah menjadi karakter transaksi futures memberikan cuan besar yang sebanding dengan risikonya.

Hal itu merupakan sebagian benang merah diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa bertajuk Menangkap Peluang investasi Saham, Kripto, dan Komoditas yang digelar Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (6/7/2026).

Hadir sebagai pembicara praktisi pasar modal global Vier Abdul Jamal, Komisaris PT Aldicitra Sekuritas dan asesor profesi pasar modal B Hari Mantoro, Presiden Direktur Pintu Andy Putra, dan Direktur Utama PT Smartin Advisor System (SAS) Odang Supriatna. Diskus dipandu wartawan senior Edo Rusyanto.

Vier Abdul Jamal, menuturkan, belajar investasi perlu dilakukan sejak muda. Sebab, waktu adalah aset terbesar yang tidak bisa dibeli kembali. “Semakin dini seorang mulai berinvestasi, makin besar efek pertumbuhan bisa didapat di masa depan,” kata Vier, dikutip InfoDigital.

Dia menegaskan, ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari investasi di usia muda. Pertama, kebebasan finansial bisa leih cepat dibanding yang baru mulai di usia matang.

Kedua, keuntungan investasi akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Intinya, makin Panjang waktu investasi, hasil akhirnya bisa tumbuh besar, meski modal awal kecil.

Ketiga, melatih mindset jangka panjang. Belajar investasi membuat orang lebih disiplin, tidak konsumtif, berpikir strategis, dan memahami risiko dan peluang.  Keempat, melawan inflasi.

BACA JUGA:Regulasi Daerah Hambat Operator Telko Investasi

Prinsipnya, nilai uang terus turun tiap tahun karena inflasi. Artinya, jika uang hanya disimpan tanpa berkembang, daya beli pemilik melemah.

Kelima, memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Intinya, kesalahan kecl hari ini bisa menjadi pengalaman berharga untuk masa depan.

Keenam, dia menerangkan, bisa membangun aset produktif lebih awal. Prinsipnya, aset produktif bekerja untuk kita, menghasilkan uang bahkan saat tidur.

Budaya Investasi

Menurut Vier, ada perbedaan besar budaya investasi di Indonesia, Amerika Serikat (AS), dan Indonesia. Di AS dan Eropa, investasi dinggap kebutuhan hidup, bukan pilihan. Banyak masyaakat muda mulai berinvestasi sejak usia 20-an. Mereka fokus pada pertumbuhan kekayaan 10-30 tahun.

Di AS, investor memahami bahwa volatilitas bukan berarti risiko. Mereka siap melihat portofolio turun 20-30%, selama fundamental tetap baik.

Selanjutnya, di AS dan Eropa, dia mengungkapkan, prinsip umum investasi adalah compounding, reinvestasi dividen, dollar cost averaging, dan alokasi aset.  “Targetnya menjadi kaya perlahan, namun pasti,” ungkapnya.

Sementara itu, di Indonesia, dia menuturkan, masyarakat banyak fokus pada tabungan dan deposito. Investasi sering dianggap untuk orang kaya. Selain itu, banyak investor mencari keuntungan cepat. Orientasi jangka pendek masih dominan.

“Di Indonesia, penurunan kecil sering memicu kepanikan. Banyak investor baru menjual saat harga turun dan membeli saat harga naik,” kata dia.

BACA JUGA:Amartha Prosper Jadi Solusi Investasi UMKM Perdesaan

Dia menyatakan, di Indonesia, investor tergiur pada skema cepat kaya, trading harian, dan spekulasi tinggi. Banyak investor berorientasi jangka pendek.

Padahal, dia menuturkan, budaya investasi modern terus berkembang.  Sayangnya, tingkat literasi dan pasar modal masih lebih rendah dibanding negara-negara barat.

Bagi Vier, investasi bukan menjadi kaya dalam semalam, tapi untuk merdeka secara finansial di masa depan. Prinsipnya, mulai dari kecil, konsisten, dan berpikir jangka panjang.

Jauhi Judol

Dia pun meminta generasi muda untuk meninggalkan jauh judol dan mulai berinvestasi. Sebab, judol merupakan aksi spekulatif yang tidak menghasilkan kepemiilikan aset produktif dan secara matematis dirancang memberi keuntungan kepada operator.

Adapun investasi, seperti saham, adalah aktivitas kepmilikan bisnis yang memiliki risiko nyata dan transparan.

Selain saham, dia menyatakan, ada beberapa instumen investasi yang bisa digarap generasi muda, mulai dari komoditas, seperti XAUUSD atau USOIL (Oil Futures), hingga aset kripto.

Prospek Kripto dan Saham

Senada, Andy Putra juga menyarankan para mahasiswa untuk segera memulai investasi legal, jangan terjebak judol. Lebih baik tempatkan dana di instrumen legal, mulai dari saham hingga aset kripto.

Dia menegaskan, prospek investasi kripto masih menjanjikan. Sebagai ilustrasi, harga Bitcoin (BTC) pada 2010 hanya Rp73 dan saat ini sudah Rp1,1 miliar per koin. “Artinya, orang yang masih memegang BTC sejak 2010 pasti dapat jackpot,” ujar dia.

Apalagi, kata dia, kripto saat ini sudah diregulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2025. Transaksi ini bebas pajak pertambahan nilai (PPN) ketika membeli dan hanya dikenakan PPN final saat menjual.

Dia menyatakan, kripto adalah aset keuangan favorit generasi muda. Berdasarkan survei, 60% investor kripto berusia 18-34 thun. 

Anak muda suka kripto karena dinamis, antara lain transaksi bisa 24 jam selama seminggu penuh. Artinya, pasar kripto tidak pernah tidur. Modal kripto juga tidak besar, minimal Rp11 ribu, pas untuk anak muda.

Ke depan, dia menyatakan, kripto adalah masa depan keuangan dunia. Sebagai contoh, AS sudah mendorong stable coin untuk memperkuat dolar. Kripto juga sudah menjamah bisnis.

“Sebagai contoh, proyek properti sudah bisa ditokenisasi. Ini membuka jalan investor kripto menjadi semacam pemegang saham proyek,” kata dia.

Transaksi kripto di Indonesia, kata dia, juga cukup besar. Tahun lalu, nilainya mencapai Rp480 triliun. 

BACA JUGA:GoTo Utang Rp4,65 Triliun untuk Investasi

Hari Mantoro menerangkan, investasi harus dilakukan sedini mungkin. Sebab, dana kas akan kena dampak inflasi. Sebaliknya, investasi mempertahankan daya beli, imbal hasil lebih tinggi daripada menabung.

Dia menyatakan, dampak nyata dari penurunan nilai mata uang ini sangat terasa pada harga barang pokok dan tersier di sekitar kita. Sebagai contoh, pada 1991, sebuah mobil Toyota Kijang Super Chassis dapat dibawa pulang dengan harga Rp 24,5 juta saja.

Namun, 34 tahun kemudian, tepatnya pada 2026 ini, harga tipe penerusnya, Innova Zenix, telah melambung hingga Rp 438 juta, mengalami kenaikan fantastis sebesar 17,8 kali lipat.

Budaya Menabung

"Oleh sebab itu, untuk mempertahankan daya beli, generasi diimbau untuk segera beralih dari budaya menabung (saving) ke budaya berinvestasi (investing)," jelas Hari.

Pada titik tersebut, dia menyatakan, investasi pada emiten berfundamental kuat terbukti mampu menghasilkan imbal hasil besar. Contohnya di saham BBCA dan BREN.

Odang Supriatna menambahkan, SAS ingin mendorong distributor agar naik level menjadi profesional. Salah satunya membantu mahasiswa menghadapi masa depan keuangan yang lebih baik.

“Visi kami memberikan inspirasi pada mahasiswa yang ingin menjadi coder/programmer EA & AI Trading, influencer keuangan, day trading professional, dan smart investor,” ucap Odang. (abm)