Awas, Ancaman Siber Ancam Anak Lewat Gim

Awas, Ancaman Siber Ancam Anak Lewat Gim

Ilustrasi anak-anak menggemari gim online. (Dok Kaspersky)--

Jakarta, ID - Kaspersky, perusahaan konsultan dan penyedia solusi keamanan siber global asal Rusia, menemukan adanya tren ancaman siber terkait permainan (gim) meningkat 86% di seluruh Asia Tenggara pada paruh kedua tahun 2025. Anak-anak pun menjadi salah satu sasarannya. 

Selain mamanfaatkan kecanggihan aplikasi AI, penjahat siber kini mengintai di salah satu ruang digital yang paling familiar bagi kaum muda dan anak-anak, yakni melalui permainan daring. 

Beberapa judul yang paling banyak menjadi target termasuk Minecraft dan Roblox karena fitur-fiturnya yang sangat dapat disesuaikan, di mana para pemainnya sering mencari cheat, mod, atau skin karakter eksklusif. 

“Penjahat siber memanfaatkan perilaku tersebut untuk menyamarkan fail berbahaya sebagai peningkatan permainan atau mengarahkan pengguna ke situs web palsu yang mengklaim menawarkan add-on menarik,” ungkap Andrey Sidenko, analis utama konten web dan pakar keamanan daring anak-anak di Kaspersky, dikutip InfoDigital, Jumatr (26/6/2026). 

BACA JUGA:54 Jutaan Serangan Siber Ancam Indonesia

Apa yang dimulai sebagai ‘pencarian polos’ anak-anak untuk peningkatan gim pun dapat dengan cepat berubah menjadi paparan data pribadi dan risiko keamanan serius hingga kerugian finansial bagi korban yang tidak waspada.

Karena itu, orang tua dan anggota keluarga lainnya diingatkan pentingnya untuk menyadari bahwa anak-anak tidak selalu menjadi target akhir, melainkan titik masuk ke dalam keluarga. 

Ketika remaja menggunakan perangkat rumah tangga bersama, atau memiliki akses ke kartu kredit orang tua untuk pembelian gim online, satu pelanggaran saja dapat memberi penyerang akses ke akun dan data yang tersimpan milik anggota keluarga lainnya.

Cara Pencegahan

Dari sudut pandang pencegahan, Andrey menyebut, solusi kontrol orang tua dapat memainkan peran penting dalam melindungi anak-anak secara daring. 

Solusi kontrol tidak hanya memberikan visibilitas terhadap aktivitas digital anak, tetapi juga memungkinkan orang tua untuk membatasi akses ke konten yang tidak pantas, menetapkan batasan waktu layar, dan menciptakan lingkungan daring lebih aman yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.

“Teknologi saja tidak cukup. Komunikasi terbuka dan kepercayaan antara orang tua dan anak sangat penting untuk keamanan digital yang berkelanjutan,” tegas Andrey. 

BACA JUGA:Bisnis Pasar Gim RI Tembus US$6 Miliar

Menurut dia, pembatasan akses tanpa penjelasan seringkali justru menyebabkan perilaku yang didorong oleh rasa ingin tahu dan pengambilan risiko. 

Sebaliknya, menumbuhkan literasi digital, membahas potensi ancaman, dan mendorong anak-anak untuk berbagi pengalaman daring mereka dapat secara signifikan memperkuat ketahanan terhadap ancaman siber. 

Pada akhirnya, memastikan keselamatan anak-anak di dunia digital membutuhkan pendekatan seimbang yang menggabungkan perlindungan teknologi, tanggung jawab platform, dan hubungan kuat berbasis kepercayaan dalam keluarga. 

“Hanya melalui upaya kolektif, kita dapat memastikan bahwa arena bermain digital anak-anak kita tidak menjadi tempat perburuan pelaku ancaman,” pungkas Andrey. (bdm)