Saham GOTO Anjlok ke Rp28, Ini Penjelasan Manajemen

Saham GOTO Anjlok ke Rp28, Ini Penjelasan Manajemen

Driver ojek GoRide menggunakan motor listrik. (Dok Gojek-GoTo)--

Jakarta, ID – Manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (Grup GoTo), emiten teknologi induk dari Gojek dan GoPay berkode saham GOTO, akhirnya menjelaskan kenapa harga saham tertekan dan anjlok dalam ke Rp28 per lembar.

Pantauan InfoDigital, saham GOTO sudah bergerak sideways ke level Rp28 pada perdagangan terakhir, Jumat (2/10/2026) hingga pukul 10.10 WIB, ketika berita ini dibuat.  

Namun, dalam setengah tahun terakhir, Maret-2 Oktober 2026, pada level harga Rp28, saham GOTO telah turun Rp41 (59,42%) dari sebelumnya masih Rp70 per lembar.

Di sisi lain, dalam sepekan (25 September-2 Oktober 2026) terakhir, hingga pukul 10.10 WIB, harga saham GOTO juga telah turun dari Rp50 ke level Rp28. 

Sementara itu, jika melihat dari harga IPO-nya pada Rp338 ketika ditawarkan kepada publik, harga saham GOTO saat ini yang Rp28 per lembar sudah turun sangat dalam mencapai Rp310 (91,72%). 

BACA JUGA:Morgan Stanley Galau Jual-Beli Saham GOTO?

Direktur dan Corporate Secretary GoTo RA Koesoemohadiani menjelaskan bahwa efektif mulai 31 Agustus 2026, saham GOTO telah dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexs dengan pertimbangan review indeks Agustus 2026. 

Dia menyampaikan, keputusan MSCI tersebut murni bersifat alasan teknis.

Sebab, volume perdagangan saham GOTO rendah akibat berada pada harga yang minimum di Bursa Efek Indonesia, yaitu Rp50 per lembar sejak Mei tahun 2026. 

“Keputusan tersebut tidak disebabkan oleh dan tidak mencerminkan kinerja Perseroan,” jelas Koesoemohadiani, dikutip InfoDigital. 

Sebelumnya, efektif pada 22 Juni 2026, saham GOTO juga sudah dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Mid Cap Index sebagai dampak review indeks pada Juni 2026. 

Alasannya, saham GOTO hanya tercatat di papan pengembangan BEI, sehingga dinilai sudah tidak memenuhi kriteria untuk masuk dalam FTSE GEIS yang harusnya di papan utama. 

Dampaknya lebih lanjut, saham perseroan pun mengalami tekanan jual dari para investor institusi asing, terutama passive funds. Karena, mereka menjadikan Indeks MSCI dan FTSE sebagai acuan investasi wajib untuk portofolionya. 

“Karena itu, sejak Juni 2026, secara teknikal terus terjadi tekanan jual atas saham perseroan,” tuturnya.