Pasar Komputer RI Capai 982.000 Unit pada Kuartal I, ASUS Teratas

Pasar Komputer RI Capai 982.000 Unit pada Kuartal I, ASUS Teratas

Komputer jinjing atau laptop. (Dok IDC)--

Jakarta, ID – Data riset International Data Corporation (IDC) menyebutkan bahwa penjualan komputer (personal computer/PC), termasuk laptop atau komputer jinjing, di Indonesia (RI) mencapai 982.000 unit pada kuartal I-2026

Paara vendor/produsen komputer di Indonesia berhasil mengirimkan PC, yang meliputi desktop, laptop/notebook, dan workstation), sebanyak 982.000 unit pada kuartal I-2026, naik 9,4% dibandingkan setahun sebelumnya.

Komputer merek ASUS memimpin pasar PC Indonesia pada kuartal I-2026 dengan pangsa pasar mencapai 21,9%, lalu, diikuti oleh merek Lenovo dengan penguasaan pasar 21,4%.

Pasar komputer tersebut melebihi ekspektasi meskipun biaya komponen meningkat dan pasokan semakin ketat, menurut Worldwide Quarterly Personal Computing Device Tracker dari IDC

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan penjualan di saluran konsumen dan komersial, karena distributor ‘bergegas’ mengamankan persediaan sebelum kenaikan harga yang diantisipasi.

“Indonesia tetap menjadi pasar strategis bagi vendor PC. Alokasi pengiriman, khususnya untuk produk dengan harga lebih rendah, memperjelas hal tersebut,” ujar Analis Pasar Senior Riset Perangkat IDC Leonard Adiarto Sudjono, dikutip InfoDigital, Sabtu (5/9/2026). 

BACA JUGA:Pemerataan Internet Tak Lagi Andalkan Menara BTS

Pendukung Pertumbuhan Pasar PC 

Kenaikan harga perangkat telah mendorong pengguna akhir dan saluran distribusi untuk mempercepat pembelian pada kuartal pertama 2026 menjelang kenaikan lebih lanjut yang diperkirakan. 

Pemasok/distributor pun bergerak cepat untuk membangun cadangan persediaan karena ketidakpastian ekonomi makro membuat penetapan harga jangka pendek menjadi tidak dapat diprediksi.


Pasar Komputer RI kuartal I-2026. (Dok IDC)--

Penetapan produksi di awal tahun 2026 ini memiliki dampak ganda. Hal ini meningkatkan angka pada kuartal pertama sekaligus mendorong permintaan ke depan, sehingga mengurangi ruang gerak untuk sisa tahun 2026.

Percepatan penjualan pada kuartal pertama diproyeksikan akan berdampak negatif pada paruh kedua tahun 2026. Sementara itu, organisasi/perusahaan dengan anggaran fleksibel memajukan pembelian, yang lainnya mulai mengurangi pengeluaran.

“Sebuah tren, yang menurut IDC, akan semakin intensif yang berkontribusi pada penurunan pengiriman yang tajam di kuartal ketiga dan keempat (tahun ini),” tutur Leonardo.