Monas University Manfaatkan AI untuk Lestarikan Aksara Kuno Indonesia
Monash University berusaha lestarikan aksara Indonesia. (Dok Monash University)--
Jakarta, ID - Monash University, universitas internasional pertama dengan kampus fisik di Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang, Banten, menggunakan teknologi AI untuk mendukung pelestarian DNA budaya Indonesia.
Bagi Indonesia, yang memiliki lebih dari 700 bahasa dan beragam aksara kuno yang luar biasa, peneraparan teknologi AI diharapkan bisa mengatasi bias digital yang dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian budaya Tanah Air dari kepunahan.
Monash University di Indonesia pun hadir untuk menjawab tantangan ‘romanisasi’, atau dibuat untuk memahami dunia budaya Indonesia yang kini didominasi hanya melalui alfabet Latin.
Dipimpin bersama oleh Assistant Professor Alham Fikri Aji dan Associate Professor Derry Wijaya, serta melibatkan tim peneliti internasional dari MBZUAI dan Monash University, Indonesia, riset memperkenalkan NusaAKsara, sebuah tolok ukur inovatif yang dirancang untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali aksara-aksara asli Indonesia.
BACA JUGA:Mahasiswa Didorong Kuasai Teknologi AI
Associate Professor Derry Wijaya memahami bahwa menghidupkan kembali sebuah bahasa atau aksara lokal dan kuno Indonesia membutuhkan upaya sosial, politik, dan teknologi yang berjalan beriringan.
“Di berbagai belahan dunia, banyak komunitas berhasil membangkitkan bahasa-bahasa yang sempat ‘tertidur’ atau meningkatkan keberadaan aksara tradisional melalui perpaduan semangat akar rumput dan dukungan institusi,” ujar Wijaya, dikutip InfoDigital, Senin (29/6/2026).
Teknologi AI pun disebutnya memiliki potensi untuk menjadi bagian dari solusinya. Hanya saja, dibutuhkan pelatihan yang terarah untuk mengatasi dampak negatif yang melekat pada kondisi yang ada saat ini.
Contoh Sukses Selandia Baru
Ada berbagai contoh sukses yang dapat menjadi acuan dalam upaya menghidupkan kembali bahasa yang hampir punah.
Pada 1980-an, rendahnya jumlah penutur fasih bahasa Māori di Selandia Baru mendorong para tokoh adat setempat untuk mendirikan pusat penitipan anak.
Di sana, anak-anak didekatkan secara mendalam dengan bahasa dan budaya Māori oleh para tetua adat.
Kemudian, inisiatif tersebut berkembang menjadi jalur pendidikan berkelanjutan lewat sekolah dasar dan sekolah menengah dengan bahasa pengantar Māori.
“Meski kondisi banyak aksara di Indonesia mengkhawatirkan, kehadiran AI ternyata bisa memberikan harapan,” kata Wijaya.