Waspadai JADEPUFFER, Ransomware Berbasis AI LLM yang Ubah Ancaman Siber
Ilustrasi teknologi AI sebagai ancaman baru serangan siber. (Dok Kaspersky)--
Jakarta, ID – Ancaman ransomware memasuki babak baru setelah Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) mengidentifikasi JADEPUFFER, ransomware berbasis Large Language Model (LLM), sebagai contoh awal serangan siber dengan pemanfaatan AI secara lebih mandiri.
Temuan tersebut pun menunjukkan perubahan pola serangan dengan memanfaatkan teknologi AI.
Jika sebelumnya kecerdasan buatan lebih banyak digunakan sebagai alat bantu operator manusia, perkembangan terbaru memperlihatkan AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan serangan.
Salah satu kelompok yang menjadi perhatian adalah SilverFox. Kelompok advanced persistent threat (APT) ini aktif menyasar organisasi di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, India, Afrika Selatan, dan Rusia.
BACA JUGA:BSSN dan ADIGSI Perkuat Kolaborasi Tingkatkan Keamanan Siber
Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GReAT Ye Jin menyebut, SilverFox menjadi salah satu kelompok ancaman siber yang aktif di kawasan Asia-Pasifik.
Perkembangan ransomware yang memanfaatkan AI ini berpotensi mengubah karakter serangan siber.
Operasi yang sebelumnya membutuhkan tim dengan sumber daya besar dapat berkembang menjadi serangan dengan biaya lebih rendah dan tingkat otomatisasi lebih tinggi.
“SilverFox adalah salah satu kelompok ancaman paling aktif di seluruh kawasan Asia Pasifik” ungkap Ye Jin, dikutip InfoDigital, Jumat (21/8/2026).
SilverFox Manfaatkan Phishing Bertema Pajak
Menurut riset Kaspersky, SilverFox menggunakan metode phishing dengan memanfaatkan isu yang memiliki tingkat urgensi tinggi. Pelaku mengirimkan e-mail yang dibuat menyerupai pemberitahuan audit pajak resmi.
Dalam sejumlah serangan, korban diarahkan untuk mengunduh arsip yang diklaim berisi daftar pelanggaran pajak.
Penggunaan identitas dan bahasa yang menyerupai komunikasi lembaga resmi bertujuan meningkatkan kepercayaan korban sekaligus mendorong mereka membuka fail berbahaya.
Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 e-mail berbahaya terkait aktivitas tersebut sepanjang Januari hingga Februari 2026.